ECB’s Lane : Eropa Menghadapi Q2 Yang Sulit

ECB’s Lane : Eropa Menghadapi Q2 Yang Sulit

Kepala ekonom ECB Philip Lane mengatakan bahwa kawasan Eropa akan menghadapi kuartal kedua dalam kondisi yang sulit karena meningkatnya infeksi virus yang membuat pemerintah Uni Eropa kembali memberlakukan langkah-langkah lockdown, namun pihak ECB akan menjalankan upayanya untuk menjaga biaya pinjaman sangat rendah.

Pada awal bulan ini European Central Bank merasa khawatir bahwa kenaikan biaya pinjaman akan menggagalkan laju pemulihan, sehingga mereka berjanji untuk meningkatkan pembelian obligasi untuk menjaga imbal hasil tetap berada di kisaran rendah, yang mana data yang dirilis pada Senin kemarin menunjukkan pembelian sebagian besar obligasi pemerintah sudah naik sekitar setengah dalam sepekan sejak keputusan tersebut.

Dalam wawancara dengan CNBC, Lane mengatakan bahwa ini akan menjadi kuartal yang panjang, dimana terjadi korelasi antara kemajuan dan program vaksinasi serta kemajuan dari sisi medis lainnya, untuk menghadapi tantangan jangka pendek dalam upaya mengendalikan pandemi virus saat ini.

Hingga saat ini kampanye penyebaran vaksin Covid-19 berjalan dengan lambat di 19 negara anggota Eurozone dan saat ini pemerintah telah memperpanjang kebijakan lockdown hingga bulan April mendatang, yang dalam beberapa kasus diberlakukan pengetatan, yang menunjukkan terjadinya penundaan lebih lanjut dalam pemulihan.

Sementara itu Lane sendiri telah berupaya untuk meredam lonjakan pembelian obligasi di pekan lalu, dengan menerapkan Pandemic Emergency Purchase Programme seiring data mingguan yang mungkin berfluktuasi, dan beliau berjanji bahwa akan ada peningkatan substansial dengan cara yang konsisten dalam periode yang lebih lama.

Lebih lanjut Lane menambahkan bahwa pemerintah Eropa, yang berperan penting dalam pembiayaan ekonomi, perlu untuk merefleksikan tanggapan mereka, terutama jika mengingat paket stimulus pemerintah AS sebesar $ 1.9 triliun, yang akan mengubah perdebatan mengenai permasalahan tersebut.

Semua ini menjadi masalah yang penting bagi para pembuat kebijakan Eropa untuk dipikirkan, yaitu mengenai bagaimana mengkalibrasi respon fiskal Eropa dan sekaligus memastikan hal tersebut cukup untuk melewati masa pandemi ini.

Para pejabat Eropa semakin mendapat kecaman terhadap sesuatu yang dipandang sebagai respon fiskal yang mengecewakan terhadap kondisi krisis saat ini, sehingga membuat Eropa menjadi negara yang paling lambat dalam pemulihan dibandingkan dengan negara-negara ekonomi maju lainnya.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas