Dollar Menguat Terhadap Euro

Dollar Menguat Terhadap Euro
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Greenback menunjukkan kinerja yang solid dan mencatat level tertinggi empat bulan terhadap Euro, seiring respon pandemi di AS yang terus melampaui Eropa yang hingga saat ini masih terhambat oleh kebijakan lockdown yang diperpanjang serta tertundanya peluncuran vaksin.

Sebagai mata uang safe haven, pergerakan greenback terpantau masih bertahan di sebagian besar kenaikannya dalam dua hari terakhir, yang dipicu oleh masih tingginya kekhawatiran terhadap gelombang ketiga Covid-19 di kawasan Eropa serta potensi kenaikan pajak AS dan sentimen terhadap laju inflasi.

Keputusan pemerintah Jerman yang menyerukan lockdown ketat selama periode liburan Paskah, nampaknya tidak banyak membangun kepercayaan terhadap prospek ekonomi di kawasan tersebut, namun justru menambah ketidakpuasan terhadap penanganan pandemi dari pemerintahan Kanselir Angela Merkel.

Terkait akan hal ini Tapas Strickland selaku direktur ekonomi dan pasar di National Australian Bank mengatakan bahwa tertundanya peluncuran vaksin menjadi titik lemah di Eropa, di tengah meningkatnya kasus infeksi virus baru dan kebijakan pengetatan pembatasan aktifitas ekonomi, yang kemungkinan berarti bahwa percepatan laju pertumbuhan di kuartal kedua kemungkinan akan diperlambat hingga seperempat basis poin, di tengah narasi mengenai AS yang lebih unggul dibandingkan Eropa pada kuartal mendatang.

Namun demikian pada saat yang sama reli yang dibukukan oleh US Dollar sedikit mengalami perlambatan, menyusul sejumlah mata uang pesaingnya telah mulai menunjukkan pemulihan dari posisi terendahnya di tengah banyaknya pasar ekuitas di kawasan Asia yang mencatat kenaikannya.

Pada hari Rabu waktu setempat Menteri Keuangan AS Janet Yellen dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell telah menyampaikan kepercayaan mereka terkait laju pemulihan ekonomi AS di depan para anggota Kongres AS.

Dalam hal ini Yellen menyampaikan bahwa dirinya bersikap terbuka terhadap kebijakan bank untuk menerapkan buy-back saham sekaligus membayar dividen, yang menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap laju perekonomian, sementara Powell mengatakan di depan anggota parlemen Senat bahwa dirinya berpikir tahun 2021 ini akan menjadi tahun yang sangat kuat bagi laju pemulihan ekonomi AS dari krisis pandemi.

Apa yang disampaikan oleh Yellen ini sedikit memulihkan sentimen investor, setelah sehari sebelumnya beliau menyatakan dukungannya terhadap kenaikan pajak untuk membayar rencana dari Presiden Joe Biden dalam meningkatkan infrastruktur dan investasi lainnya.

Selain itu laju inflasi juga berpotensi mengalami peningkatan akibat gangguan dalam rantai pasokan, yang tentunya akan menimbulkan tekanan biaya bagi para produsen, menyusul meningkatnya aktifitas pabrik di AS pada awal bulan Maret ini.

Sedangkan ekspansi aktifitas bisnis di kawasan Eropa yang tidak terduga dinilai tidak banyak membantu memulihkan sentimen pasar, seiring kebijakan lockdown Covid-19 yang diperbarui di banyak negara anggota Eurozone, yang berarti bahwa kenaikan aktifitas bisnis kemungkinan tidak akan bertahan hingga April mendatang.

Ahli strategi di Commonwealth Bank of Australia, Kim Mundy menilai bahwa kekhawatiran yang terjadi di Eropa semakin besar setelah gelombang ketiga dari infeksi virus menimbulkan ancaman, yang diakibatkan oleh jenis varian baru dari virus corona yang lebih menular sehingga menimbulkan respon lockdown yang lebih ketat, dan penundaan yang signifikan untuk langkah pembukaan ekonomi Eropa, akan memperlebar kesenjangan antara prospek ekonomi Eropa dan AS.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas