BoJ Berpotensi Menghapus Target Numerik Pembelian Asetnya

BoJ Berpotensi Menghapus Target Numerik Pembelian Asetnya

Menyoroti pelonggaran kenaikan biaya secara berkepanjangan dan menandai titik balik bagi program pembelian stimulus secara besar-besaran dari Gubernur Haruhiko Kuroda, Bank of Japan berpotensi menghapus target numerik bagi program pembelian aset berisikonya pada tinjauan kebijakan mereka di hari Jumat mendatang.

Selain itu bank sentral Jepang kemungkinan juga akan mengklarifikasi terkait seberapa besar imbal hasil obligasi akan mengalami penyimpangan dari target 0% dan sekaligus dapat mempertimbangkan langkah-langkah untuk mengatasi efek samping dari penerapan suku bunga negatif.

Selama ini muncul pertanyaan mengenai keberlanjutan pelonggaran kebijakan dari Bank of Japan, menyusul akumulasi biaya eksperimen dari Kuroda selama delapan tahun terakhir dalam memicu inflasi, sembari berjuang untuk melawan hambatan ekonomi negara tersebut dari hantaman yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 dengan amunisi kebijakan yang semakin menipis.

Terkait akan hal ini Shigenori Shiratsuka yang merupakan mantan eksekutif bank sentral, mengatakan bahwa kerangka kerja dari BoJ saat ini merupakan hasil tambal sulam dari langkah-langkah yang diambil dalam delapan tahun terakhir sehingga untuk menjernihkan beberapa diantaranya merupakan suatu yang ideal, akan tetapi hal itu mungkin merupakan sesuatu yang terlalu ambisius bagi bank sentral Jepang untuk memulai tinjauan kebijakan bulan Maret.

Perhatian pasar saat ini tertuju pada kajian kebijakan BoJ karena harapan terhadap laju pemulihan global telah mendorong imbal hasil obligasi di banyak negara, termasuk Jepang mengalami kenaikan, dan hal ini telah menantang upaya Bank of Japan untuk membatasi imbal hasil obligasi 10-tahun mereka di kisaran nol persen di bawah kebijakan yield curve control.

Hasil tinjauan ini akan diumumkan seusai pertemuan kebijakan bank sentral selama dua hari yang berakhir di hari Jumat mendatang, dimana pihak BoJ diharapkan secara luas untuk mempertahankan target suku bunga mereka tidak berubah dari saat ini.

Dengan beredarnya kritik terhadap upaya untuk menarik kebijakan pembelian aset secara besar-besaran untuk mendistorsi pasar, maka BoJ akan melakukan pembelian dana yang diperdagangkan di bursa (ETF), yang mana ini dinilai mirip dengan intervensi di pasar mata uang, sebagai langkah yang dilakukan hanya saat terjadi guncangan yang memicu terjadinya turbulensi di pasar.

Sebuah sumber yang dekat dengan pihak bank sentral, mengatakan bahwa hal tersebut berarti akan mempermudah atau menghapus salah satu dari dua janji mereka terkait ETF, yaitu janji untuk membeli dengan kecepatan tahunan sebesar 6 triliun Yen ($ 55 milliar) hingga 12 triliun Yen, sehingga tidak akan memberi kesan bahwa hal tersebut sama dengan menerapkan kembali stimulusnya.

Kesemuanya ini bukanlah tugas yang mudah bagi Kuroda dan jajarannya, yang mana Kuroda dikenal dengan keahliannya dalam mempengaruhi pergerakan mata uang Yen dengan hanya mengeluarkan peringatan secara lisan.

Dalam tinjuan tersebut juga akan diperdebatkan mengenai cara untuk menghidupkan kembali pasar obligasi yang tidak aktif akibat dominasi dari Bank of Japan, dan tantangan saat ini adalah dengan memberi sinyal ke pasar bahwa pihak BoJ akan memungkinkan imbal hasil bergerak lebih banyak, namun tidak mengalami kenaikan terlalu banyak serta merugikan ekonomi.

Saat ini terdapat sasaran yang saling bertentangan yang telah menimbulkan pesan yang beragam dari Kuroda dan Masayoshi Amamiya selaku wakilnya, sehingga membuat investor menebak niat dan arah kebijakan bank sentral, dimana mereka telah mengatakan bahwa setiap perubahan yang dibuat terhadap tinjauan tersebut akan lebih menyempurnakan alat kebijakan mereka dibandingkan dengan langkah perbaikan yield curve control.

Untuk itu mantan wakil gubernur Bank of Japan sebelumnya, Hirohide Yamaguchi menilai bahwa tidak mungkin pihak BoJ dapat menghasilkan hasil yang memiliki dampak substansial terhadap ekonomi dan pasar, sehingga tinjauan tersebut kemungkinan hanya akan menunjukkan isyarat bahwa pihak bank sentral telah melakukan sesuatu untuk mengatasi biaya.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas