Emas Turun Seiring Data NFP AS Lebih Rendah

Emas Turun Seiring Data NFP AS Lebih Rendah

Menyusul data nonfarm payroll AS yang dirilis dengan hasil lebih rendah dari perkiraan pada Jumat pekan lalu, telah meredakan kekhawatiran para investor terhadap kemungkinan adanya pengetatak kebijakan moneter dari Federal Reserve, sehingga hal ini telah menimbulkan tekanan bagi harga komoditas Emas di sesi perdagangan Asia pagi hari ini.

Hingga menjelang memasuki sesi perdagangan waktu Eropa siang hari ini, pergerakan komoditas Emas terpantau telah bergerak 0.41% lebih rendah dari harga pembukaan ke kisaran $1883.67 per troy ounce, seiring US Dollar yang mencatat kenaikan tipis, meskipun imbal hasil Treasury AS tenor 10-year mencatat penurunan di bahwa level 1.6%.

Data sektor tenaga kerja AS yang dirlis pada hari Jumat lalu, menunjukkan non-farm payroll untuk bulan Mei meningkat sebanyak 559 ribu, yang lebih tinggi dari pencapaian sebesar 278 ribu di bulan April sebelumnya, namun masih dibawah perkiraan 650 ribu dari para analis yang disiapkan oleh investing.com.

Dengan demikian pencapaian angka yang lebih rendah dari perkiraan tersebut, telah meredakan kekhawatiran dari para investor terhadap potensi laju inflasi yang tidak terkendali serta kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan semula.

Sementara itu Menteri Keuangan AS Janet Yellen pada akhir pekan kemarin, mengatakan bahwa rencana pengeluaran sebesar $ 4 triliun dari Presiden Joe Biden, akan memberikan kebaikan bagi AS, bahkan jika laju pengeluaran tersebut menimbulkan lonjakan inflasi yang berlanjut hingga 2022 mendatang, serta berpotensi memicu adanya kenaikan suku bunga.

Lebih lanjut Yellen menyampaikan kepada Bloomberg, bahwa jika kondisi ekonomi AS berakhir di tengah kondisi suku bunga yang sedikit lebih tinggi, maka hal tersebut sebenarnya akan menjadi nilai tambah bagi sudut pandang masyarakat dan sudut pandang dari The Fed itu sendiri.

Namun nampaknya para investor tetap bersikap hati-hati di tengah optimisme mereka, yang tersirat dari komentar analis pasar senior di OANDA, Jeffrey Halley kepada Reuters yang mengatakan bahwa pihaknya melihat sejumlah penutupan panjang di pasar Asia pada hari ini, dengan lindung nilai risiko yang dibatalkan setelah berita ekonomi di akhir pekan lalu berjalan lancar, seiring dukungan Dollar yang lebih kuat serta reli bitcoin.

Lebih lanjut Halley juga menyampaikan bahwa meskipun komoditas Emas telah mengalami koreksi di sesi terakhir perdagangan pekan lalu, namun fundamental bullish masih tetap berpotensi menjadi latar belakang pergerakan Emas, dan hanya kenaikan tajam dari kurva imbal hasil AS yang kemungkinan besar akan mengubah kondisi tersebut.

Pada pekan ini para investor tengah menunggu keputusan kebijakan dari European Central Bank pada hari Kamis mendatang, serta pertemuan Federal Reserve yang dijadwalkan mengadakan pertemuan pada tanggal 15-16 Juni mendatang.

Sedangkan dari sisi permintaan dilaporkan bahwa India sebagai konsumen Emas terbesar kedua dunia, telah membukukan diskon terbesarnya dalam delapan setengah bulan pada pekan lalu, karena jumlah kasus infeks Covid-19 di negara tersebut yang telah mencapai 28.8 juta per tanggal 7 Juni lalu.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas