China Balas Kebijakan Moneter AS, Dolar AS Terus Loyo Bahkan Setelah Keputusan The Fed

Dolar terus melemah selama sesi perdagangan Asia Pasifik hingga sore ini. Pelemahan ini bahkan lebih jauh lagi dan merupakan penerusan dari sesi perdagangan kemarin (Kamis, 22/03). Pelemahan disebabkan oleh Kebijakan Moneter AS terhadap China, dan terus berlanjut melemah. Bahkan, setelah Federal Reserve AS bergerak untuk menaikkan suku bunganya, Dolar AS terus mengalami penurunan.

Kebijakan Moneter AS dan Perang Dagang Melemahkan Dolar AS

Keputusan The Fed yang hanya menaikkan suku bunganya dua kali lagi di masa mendatang, lebih kecil daripada ekspektasi pasar. Sehingga, pasar pun bereaksi negatif dengan menjual USD dan beralih ke safe havens lainnya.

Selain itu, kisruh semakin memanas akibat dari kekhawatiran perang dagang yang semakin berlanjut.  Presiden AS, Donald Trump sebelumnya telah memutuskan untuk menaikkan bea masuk bagi impor Baja dan Aluminium. Tindakan tersebut merupakan tindakan proteksionis dari pihak Amerika, namun mereka berani mengambil resiko perang dagang.

Hari ini, kita telah mendengar bahwa China memilih untuk membalas perlakuan AS dengan meningkatkan bea masuk sebesar 15%. Kenaikan tersebut akan diberlakukan untuk berbagai jenis impor AS seperti Aluminium, Anggur, Buah-buahan lain, dan daging (Red : Daging Babi).

Indeks Dolar AS yang mengukur kekuatan Greenback terhadap enam mata uang utama dunia mengalami penurunan ke level 89.13. Greenback merosot 0.13%, dan terus merosot meskipun langkah The Fed menaikkan suku bunga telah dilakukan.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), menambahkan suku bunga acuanya sebesar 25 basis poin. Dalam kenaikan suku bunga tersebut, The Fed mencatat bahwa :

“Prospek ekonomi telah menguat dalam beberapa bulan terakhir”.

Namun, The Fed tidak memberikan indikasi bahwa pihaknya akan menaikkan suku bunga empat kali selama tahun ini. Hal inilah yang menjadi pemicu pertama pelemahan dolar yang cukup besar.

Tekanan terus berlanjut, dimana Trump justru akan mengumumkan Kamis minggu depan bahwa sejumlah tarif baru sebesar $50 milyar akan diberlakukan ke China. Tentu saja pihak China juga akan melakukan tindakan protektif terhadap negaranya, dengan membalasnya dengan kenaikan tarif impor yang lebih parah di hampir seluruh sektor.

Tags:
0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Tanya Jawab Forex ©2018. ArisMedia.ID

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account