Dolar Merosot Vs Yen, Retorika Perang Dagang Terus Berlanjut

Dolar Merosot lebih lanjut terhadap mata uang utama di sesi Asia Pasifik Jum’at pagi (23/03). Khususnya terhadap Japanese Yen (JPY) yang justru diperdagangkan di level 104.89. Penurunan ini sekaligus menjadi breakout support di level 105.00 selama beberapa pekan terakhir.

Penyebab Dolar Merosot

Dolar Merosot dipengaruhi berbagai sentimen seperti penerapan bea masuk AS yang diterapkan pada barang import China.  Menanggapi hal ini, China kemudian melakukan tindakan balasan yang langsung mengguncangkan kepercayaan investor. Karena hal tersebut, dolar AS mengalami tekanan berat, apalagi tidak adanya sentimen besar yang dirilis di Jum’at ini.

Indeks Dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap rival mata uang utama terakhir berada di level 89.22 siang ini. Mengalami penurunan sekitar 0.28%, mencapai dibawah titik terendah minggu ini di level 89.08 pada hari Kamis.

Presiden AS, Donald Trump memberikan sinyal memorandum kepresidenan untuk mentargetkan dana bea cukai hingga $60 milyar untuk barang-barang dari China. China dianggap telah menyalahgunakan kekayaan intelektual AS.

Bank Rakyat China (PBOC) telah menetapkan tingkat koreksi yuan terhadap dolar AS di level 6.3272, lebih besar daripada hari sebelumnya di level 6.3167. Karena itu, pasangan mata uang USD/CNY merosot 0.09% di level 6.3308.

Merespon tarif yang bisa di sebut “Anti China” dari Amerika Serikat, China merencanakan rencana tarif balasan terhadap import AS. Nilainya pun mencapai $3 milyar, dan akan diterapkan diberbagai sektor. Misalnya saja, Pipa Baja, Buah Anggur, dan seluruh produk impor AS lainnya akan dinaikkan 15%. Lalu, China juga akan menaikkan tarif impor sebesar 25% untuk daging babi dan aluminium daur ulang.

JPY Mengambil Keuntungan Dari Masalah Yang Terjadi

Pasangan USD/JPY terus merosot hingga 0.44% pada hari ini, ke level 104.82. Dolar terus mengalami penurunan minat, dan para investor beralih ke Safe Havens lainnya yakni Yen Jepang (JPY). Para investor lebih memilih berpindah dari USD karena volatilitas pasar yang sedang meningkat drastis, akibat dari dua ekonomi terbesar dunia sedang menuju ke arah perang dagang.

Tags:
0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Tanya Jawab Forex ©2018. ArisMedia.ID

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account