Level Terendah Dolar Sejak 2014 Tersentuh – Minggu Terburuk Dalam 2 Tahun Terakhir

Level terendah dolar sejak 2014 kembali tersentuh pada saat Greenback tergelincir terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari ini (Jum’at 16/02). Angka penurunan ini juga menjadi kerugian mingguan terbesar dalam 2 tahun terakhir. Disebabkan oleh sentimen negatif yang mengimbangi dukungan kenaikan yield obligasi pemerintah AS (Treasury).

Berbagai Penyebab Tersentuhnya Level Terendah Dolar AS Sejak 2014

Mata uang AS telah terbebani oleh berbagai faktor pada awal tahun ini. Kekhawatiran bahwa Washington mungkin mengejar strategi dolar yang lemah dan erosi agar keuntungan dalam sektor ekspor naik juga terjadi. Apalagi, jika Dolar semakin melemah, negara-negara lain mulai mengurangi kebijakan moneter yang mudah.

Keyakinan pedagang terhadap Dolar AS juga terkikis oleh meningkatnya kekhawatiran “Twin Budget” atau “Anggaran Kembar” AS dan defisit neraja berjalan.  Angka terakhir menunjukkan defisit mencapai $1 triliun pada 2019, ditengah pengurangan pajak perusahaan yang besar.

Memperpanjang kerugian di hari sebelumnya, Indeks Dolar terhadap mata uang utama jatuh ke level 88.253, terendah sejak Desember 2014. Indeks berada di jalur yang akan turun sekitar 2% minggu ini, dan menjadi penurunan mingguan terbesar sejak Februari 2016.

Penurunan tersebut terjadi karena imbal hasil Treasury AS telah mencapai level tertinggi 4 tahun. Apalagi, Inflasi AS yang datang lebih kuat dari yang diperkirakan bulan Januari, meningkatkan harapan bahwa The Fed akan menaikkan kenaikan suku bunga setidaknya 4 kali selama tahun 2018.

Hal ini juga sempat membuat banyak ekonom dunia bingung. Mengingat imbal hasil Treasury yang lebih tinggi, seharusnya juga dibarengi dengan Dolar yang lebih kuat.

Chris Turner, kepala strategi mata uang di ING London, mengatakan bahwa rincian hubungan tradisional antara Treausry AS dan Dolar, khususnya terhadap Yen, dapat dijelaskan oleh fakta bahwa imbal hasil meningkat ditengah kekhawatiran defisit anggara, dan bukan karena Inflasi.

Ia mengatakan :

“Kenaikan imbal hasil tahun ini di dorong oleh premi berjangka. Yang juga menjadi investasi premium beresiko untuk menahan hutang jangka panjang”.

Turner menambahkan :

“Investor internasional mewajibkan konsesi dalam dolar untuk menahan aset AS karena resiko kebijakan fiskal”.

Tags:
0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Tanya Jawab Forex ©2018. ArisMedia.ID

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account