Dolar Selandia Baru Semakin Tergerus Setelah Pernyataan RBNZ Dovish

Dolar Selandia Baru (NZD / Kiwi) semakin tergerus ke titik terendah satu bulan hari ini (08/02). Hal ini terjadi seiring keluarnya pernyataan RBNZ Dovish. Yaitu, bank sentral negara tersebut bakal meninggalkan suku bunganya pada level terendah, dan juga mengurangi prakiraan target inflasi. Artinya, kebijakan moneter yang super ringan dan mudah akan tetap berjalan di Selandia Baru.

RBNZ Dovish – Kiwi Semakin Tergelincir

Kiwi semakin memperpanjang masa-masa penurunannya, dengan penurunan hingga level 0.7199 saat berita ini dirilis. Tingkat harga ini adalah yang terendah sejak awal Januari setelah RBNZ memberikan proyeksi bahwa angka inflasi New Zealand tidak sampai pada angka 2% hingga kuartal ketiga 2020.

Penurunan prakiraan inflasi tersebut adalah karena pada kuartal ketiga 2017 lalu, inflasi harga konsumen berada di level 1,6% saja. Sebuah angka dibawah semua ekspektasi seluruh pelaku pasar, karena mayoritas memproyeksikan bahwa inflasi dapat menyentuh level 3%.

Pada sesi perdagangan kemarin (07/02) kiwi masuk pada zona merah di level 0.7239, turun sekitar 1,34% dari penutupan selasa. Tentu saja penurunan ini merupakan penurunan berturut-turut selama 2 minggu terakhir, setelah rally yang solid dalam 2 bulan terakhir.

Selain itu, beberapa negara lain sudah mulai menerapkan pengetatan ataupun masih merencanakan pengetatan kebijakan moneter. New Zealand justru tetap mempertahankan kebijakan moneter super ringannya. Hal ini tentu akan menyebabkan penurunan nilai harga kiwi pada jangka panjang.

Sedangkan Aussie (Dolar Australia / AUD) mengalami penurunan 1% di level 0.7820 dan merupakan tingkat terendah sejak awal tahun 2018. Hampir seluruh mata uang rival greenback tadi malam mengalami aksi jual karena imbal hasil Treasury AS mengalami lonjakan. Sehingga, greenback mengalami penguatan sedangkan komoditas mengalami penurunan (tembaga, harga minyak, dan emas).

Aussie ternyata juga terpengaruh karena runtuhnya pasar ekuitas global yang menghadang kenaikan Aussie yang sedang gencar-gencarnya.

Aussie juga merupakan mata uang yang bakal mengalami akumulasi jual yang paling besar karena ekonominya yang terbuka. Apalagi, Aussie juga memiliki defisit neraca berjalan yang abadi, sehingga penurunan pada masa tertekan akan sangat drastis.

Tags:
0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Tanya Jawab Forex ©2018. ArisMedia.ID

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account