Jangan Fokus FOMC Saja, BoJ Juga Menarik

Haruhiko Kuroda - Jangan Fokus FOMC Saja, BoJ Juga MenarikMinggu ini, kita bisa saja hanya fokus FOMC. Sebuah rapat kebijakan moneter yang dilakukan The FED, bank sentral paling berpengaruh di dunia sehingga akan berimplikasi global. Namun informasi menarik lainnya yaitu keputusan kebijakan BoJ di Tokyo. Beberapa hasil kebijakan ini kemungkinan akan menjadi Mix atau bercampur implikasinya di pasar. Kita dapat mengetahui panduan dari kedua Bank Sentral ini yang mana kebijakannya tidak seimbang dan menjadi patokan bagi bank sentral lainnya.

Sudah banyak yang tahu bahwa sejak krisis keuangan global, penyelesaian krisis selalu dibebankan kepada kebijakan bank sentral. Dalam prosesnya, lembaga-lembaga keuangan itu berkomitmen untuk melakukan langkah-langkah kebijakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Yaitu suku bunga negatif di Eropa dan Jepang, melakukan intervensi di pasar keuangan dengan mengerahkan dana untuk membeli aset besar-besaran.

Meskipun bank sentral melakukan sesuatu kebijakan, pertanyaan penting sebenarnya adalah seberapa efektif kebijakan yang mereka lakukan dan hingga kapan mereka akan lakukan. Selalu menjadi hal patut diketahui dan ini lebih berfokus AS daripada Jepang.

Di bawah kepemimpinan Haruhiko Kuroda, Gubernur BoJ telah menunjukkan antusiasme besar untuk mengatasi pertumbuhan yang melambat dalam dekade terakhir dan ancaman deflasi di negaranya. Mulai dari operasi agresif neraca keuangan, bersamaan dengan kebijakan diturunkannya suku bunga ke area negatif. Namun hasilnya masih jauh dari memuaskan.

Alih-alih melakukan depresiasi Yen untuk promosi ekspor dan impor di dalam negeri, kebijakan BoJ yang semakin agresif membuat mata uangnya terapresiasi (menguat). Tambah lagi, imbal hasil obligasi naik secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir, mengubah harapan pertumbuhan yang seharusnya mengikuti kebijakan namun malah menjadi tantangan.

Pantas saja, pendekatan BoJ menjadi kontroversi, termasuk di antara pejabat senior di Jepang. Apalagi beberapa indikator pertumbuhan mengindikasikan bahwa kebijakan menjadi lebih tidak efektif dan bahkan kontra produktif.

Inilah yang akan menjadi latar belakang rapat kebijakan BoJ yang diadakan 20-21 September (hari ini dan besok,red), sebagai tinjauan komprehensif. Menurut pengamatan, sepertinya hasil makro ekonomi yang mengecewakan ini akan membuat pejabat BoJ untuk melakukan lebih banyak lagi, walau masih banyak perbedaan pendapat di antara mereka. Beberapa akan mengatakan bahwa suku bunga harus lebih didorong ke arah yang lebih negatif dan ekspansi program pembelian aset.

Harus diakui bahwa kesulitan bank sentral Jepang adalah untuk tidak ikut campur ketika negaranya menghadapi resiko kelesuan ekonomi. Belum lagi, BoJ harus melakukan intervensi kondisional dengan menyesuaikan kebijakan pemerintah dalam program Reformasi Struktural.

Keadaan pelonggaran ini tidak lagi menjadi unik bagi BoJ. Sebab dua sistem perbankan lainnya yaitu ECB dan BoE mulai mengadaptasi kondisi pelonggaran yang sama walau tidak separah Jepang. Situasi ECB menjadi tidak bagus ketika salah satu negara anggotanya terus gagal dalam melakukan 4 kebijakan prioritas, Reformasi Struktural Pro Pertumbuhan, manajemen fiskal yang lebih baik, pengurangan Hutang dan menyelesaikan arsitektur keuangan regional. BoE bisa saja menghadapi hal yang sama jika pemerintah Inggris bimbang dalam menyusun strategi Brexit yang juga menguntungkan bagi anggota EU.

Jadi, ketika kita fokus hanya pada The FED dalam FOMC-nya, kita juga jangan melupakan Jepang. Memang implikasinya tidak sehebat FOMC namun pasti kebijakan BoJ akan mempengaruhi penilaian resiko kebijakan jangka menengah bank sentral lainnya sebagai konsekuensi ekonomi global.

Tags:
0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Tanya Jawab Forex ©2018. ArisMedia.ID

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account